Uncategorized

Sebuah Catatan Pilu tentang Kota Kelahiranku

Tadi pagi, kuputuskan berangkat kerja dengan berjalan kaki. Tepat di sudut terminal Cibadak, ada seonggok mayat kucing. Entahlah, mungkin akibat tergilas kendaraan tadi malam. Keadaannya begitu tragis, dengan kerubungan lalat dan bentuk tubuh yang gepeng mengering. Semua manusia yang melewati mayat itu hanya menutup hidung sambil berlalu. Tidak seorang pun yang mau menguburkannya. Untuk sekadar menggeser mayat itu ke sisi jalan pun tidak ada.
Hingga seorang pegawai kebersihan yang sudah renta mendekat dan menyapu mayat itu ke dalam pengki sampah. Hanya yang menjadi peertanyaan, orang-orang masih berlalu lalang sambil tak peduli. Bahkan, anehnya mereka hanya meludah tepat di depan si kakek pembersih sampah. Entahlah, mereka sebal dengan mayat kucing atau pekerjaan sebagai pemungut sampah.
Satu hal, kota kelahiranku telah kehilangan jiwa-jiwa. Aku rindu saat-saat diriku masih kecil. Bukan Cibadak dengan Ramayana, dvd bajakan, kaki lima yang mengambil badan trotoar, atau puluhan kios baso formalin. Entahlah, masih betahkah tinggal di kota macam ini?
(Cibadak, 6/12, 06:31)

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s