Lomba

Pemenang Lomba #setiapkotapunyaceritacinta + Cuplikan Cerpen Duta Cintaku di Waigeo

Congrats! Berikut 11 pemenang lomba #setiapkotapunyaceritacinta

JUARA 1 Panji Pratama + Duta Cintaku di Waigeo
JUARA 2 Ika Akbarwati+Pahit Manis Cinta di Tapak Tuan
JUARA 3 Nina Nur Arifah + Menjemput Cinta Di Alor
Rafandha + Ruang Rahasia Ampera
Muflihatun Hasanah + Secuil Rindu di Suramadu
Jacob Julian + Torehan Cinta di Madiun
Ika Pratiwi + Putih Carita dalam Bingkai Masa Banten
Frida Kurniawati+Langen Yogyakarta
Budi Windekind + Mata(ram) Kami Bicara
Brili Agung Zaky Pradika + Terpatri Hati Benteng Kota Janji
Argha Premana+Ang, Aku Masih di Semarang

Untuk pembagian hadiah dan sebagainya akan diinformasikan selanjutnya dengan pihak UNSA.

Cuplikan Cerpen Duta Cintaku di Waigeo

Puluhan lumba-lumba berlarian, hingga memecah gelombang laut. Sesekali meloncat ke udara lepas, lalu menghempaskan kembali badannya ke permukaan air biru. Tak seberapa lama kemudian, beberapa ekor lumba-lumba gemuk dari jenis berbeda muncul tenggelam di sebelah Barat Daya. Mereka menari dengan tenang dan memukau mata penumpang yang memotretnya.

Sudah hampir tiga jam, kapal sewaan ini mengantarkan kami. Hanya empat orang saja. Aku dan kawanku Edwin dari LIPI, seorang lajang peneliti dari Ohio State’s burd Polar Amerika bernama Nathan, dan Riwu Kellu tourguide sementara kami; sekaligus ahli Tata Ruang dari Universitas Cendrawasih. Selama seminggu ini, kami diminta oleh sebuah perusahaan wisata raksasa asal Amerika untuk melakukan penelitian dalam rangka rencana Pembangunan Ekowisata berbendera perusahaan mereka di Raja Ampat. Sekaligus membiayai rekonservasi peraiaran di sana.

“O, darmommo akat umbui, hah?” nahkoda sekaligus sopir kapal sewaan memalingkan muka dengan sumringah kepada kami. Semua diam, kemudian tersenyum bingung. Aku segera menoleh pada Riwu, begitupun Edwin, dan Nathan. Tentu saja, bagi kami yang baru satu hari menginjakkan kaki di tanah Papua belum sempat belajar bahasa Asmat. Air muka kami yang bengong dengan alis mengangkat, seolah pertanda untuk memohonkan terjemahan dari Riwu.

“Haha.” Riwu terkekeh, “Artinya selamat datang di negeri nan indah ini kawan!”

“So?” Potong Nathan.

“Jadi?” Riwu menahan geli, “Ya, kalian cukup jawab dengan ‘darmommo bari akatoo’, artinya terima kasih, kami senang sekali.” Jelas Riwu diikuti anggukan kami bertiga. Sopir tertawa, seperti halnya kami yang terbahak karena berlaku seperti keledai bodoh.

Inilah Waisai, ibu kota Raja Ampat. Salah satu kabupaten di Papua Barat ini ditempuh selama tiga jam perjalanan menggunakan kapal air dari Pelabuhan Sorong. Negeri asing berkeindahan perairan terbaik, bak mutiara kerang asli. Di sinilah, surga alam dapat disaksikan dengan mata telanjang. Berbagai jenis terumbu karang yang berwarna-warni, merupa selimut pelangi pada permukaan karang. Ketika air surut, hamparan terumbu karang yang terlihat sepanjang selat, antara Pulau Waigeo dan Pulau Batanta, seumpama tumpahan harta karun alamiah. Itulah sebab, pesona Raja Ampat tercium wanginya hingga mancanegara.

Baru kali ini, aku pergi ke Papua. Selain untuk meneliti Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) dari keberadaan hotel-hotel dan penyedia wisata pantai di sepanjang perairan Raja Ampat terhadap konservasi Terumbu Karang di sana. Kami pun dijadwalkan bertemu dengan salah satu perwakilan pemilik hotel untuk mencari solusi mengenai masalah ini. Karena rencananya, perusahaan besar asal Amerika akan membeli sebagian dari hotel-hotel yang bermasalah dengan izin dan peruksakan alam. Terkadang aku pun sempat heran dengan tugasku sekarang: di saat pemerintah berkoar-koar tentang Ekowisata, di lain sisi justru wisata itu telah banyak mengakibatkan kerusakan terhadap alam sekitar. Kenapa tidak dibuat saja UU konservasi yang ketat? Ah, apapun itu, inilah tugasku dan aku harus melaksanakan semua pekerjaanku dengan sebaik-baiknya.

Setibanya di kamar hotel, aku tak langsung istirahat seperti yang dilakukan kawanku Edwin. Aku melangkah perlahan ke beranda, merentangkan tangan, lalu menarik nafas sedalam-dalamnya. Sungguh luar biasa kesegaran udara pantai Raja Ampat. Apalagi hotel ini terletak di sisian tebing yang mengarah ke laut langsung.

Kuraih kamera digital dari tas gandongku untuk menangkap panorama memesona di depanku saat ini. Kamera ku-zoom dan kuarahkan ke segala arah.

Banyak gambar indah kutangkap. Sekelompok Camar berebut udang-udangan hasil tangkapan kawannya. Anak-anak penyu chelonia mydast merangkak bersamaan untuk berlomba kembali ke laut. Sinar matahari di tengah hari menembus air tenang di keluk sebelah kanan hotel, memproyeksikan dua warna berbeda yang sungguh unik. Warna gradasinya itu ibarat kabut langit berwarna hijau dan biru yang saling berbaur.

Kemudian kuarahkan kamera sedikit ke sebelah kiri hotel. Terdapat tepian tebing karang yang kurasa cukup tinggi berwarna hijau-kuning. Kamera digitalku masih bisa menangkap gambar tebing yang berjarak sekira 50 meteran dari beranda tempatku berdiri. Ujung lensa kuputar dalam kondisi pembesaran maksimal. Dari layar LED kameraku, nampak seorang gadis berdiri sendiri menantang gemuruh angin laut. Hei, tunggu itu bukan keindahan. Itu kengerian. Perempuan itu, perempuan itu hendak bunuh diri.

Tanpa bisa kujelaskan secara nalar, kakiku langsung bergegas menuruni hotel dan berlari sekencangnya ke arah perempuan itu. Aneh. Hari pertama yang awalnya kumulai dengan luar biasa. Dan memang harus begitu. Kenapa harus diganggu dengan pemandangan tidak terduga. Gadis lokal berpakaian serba putih di tepian tebing menantang maut? Bunuh dirikah?

Sumber:
http://blogdivapress.com

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s